Friday, December 26, 2008

CERITA SA(ha)JA

"Tak mesti apa yang kita lihat harus kita saksikan", manakala yang kita lihat ataupun yang tidak sengaja terlihat begitu terasa menyayat, bolehlah kita tinggalkan dan cukup dengarkan. Kelak kan kita jadikan ukuran untuk dipertimbangkan bagaimana meningkatkan keberanian dalam sebuah "kesaksian".

Meniti hari demi hari dengan panorama yang silih berganti dan berbeda, semoga akan semakin mengisi pundi-pundi nurani kita biar semakin peka, menuju kematangan jiwa serta menambah warna. Dan tentu jangan pula kecewa ketika kita menemui panorama yang sama seperti yang kita alami sebelumnya, karena tidak semuanya harus sesuai dengan keinginan kita, maka yakinlah dengan "Maharencana".

Pasti..! pasti kita takkan pernah bisa menunggangi kuda sembrani, yang bisa kita kehendaki, mengendalikannya pada tanah suci yang kita selalu pijaki pun dapat pula mengangkasa bersama kepakan sayapnya. Sebab kita telah sama-sama tahu, bagaimana kita menghadapi "realita" dan bagaimana pula menyikapi "fantasi".

Pasti..! kau telah dapat membaca, bahwa aku tidak piawai bercerita, dan tidak pernah membaca cerita lewat pandangan mata, ketika kita membuka wacana bagaimana hitam putih dan berwarnanya hidup di alam fana, saat bersama menyeruak "halimun di tengah kota" pada hujan ketiga.
Entah sengaja atau tidak, aku lebih banyak terdiam dengan sedikit gurauan, mengiringi ceracau-mu yang begitu lincahnya bercerita dan penuh senyum ceria walau cerita yang terlontar tentang derita, getirnya sebuah rasa yang bukan hanya di lidah saja.

berbeda,,,, ya tentu saja!.
sama bedanya ketika kau berujar bahwa "kau mencintai bulan", dan aku bilang "aku suka hujan". Tidak semuanya harus sama, yang sama adalah "kewajiban" kita dan mungkin persamaan "perjalanan dalam menyusuri waktu hingga sampai kepada sebuah tempat yang kita tuju". entah dengan berjalan langsung atau berhenti pada "persinggahan"

Thursday, December 18, 2008

untuk yang terlupakan

.....untuk yang terlupakan,
tersusun rapat jari tangan maaf kuhaturkan
ketika lambai tangan tak terangkat dan senyum tak tervisualisasikan
sewaktu kau dan aku bertemu badan
pada setapak jalan yang lurus tak bersimpangan

bukan terburu-buru tapi meragu,,
apakah benar rupamu berjalan di depanku
dengan sejuta kelu
menggenggam sekepal mimpi
yang kemarin kau beli
pada penjaja asa pengepul nurani

.....untuk yang terlupakan
maafkan! telah mengajakmu membaca roman picisan
hingga terhisap emosi dan menjadi seorang pemeran
menjadi pelakon ataukah korban

mengikuti kata mengindahkan koma
sampul tertutup dan kita tertawa
menipiskan perbedaan kekal dan fana

tidakkah sewaktu membaca banyak plot yang serupa
antara kepekatan darah dan deraian air mata
bahkan majas tak menjadi umpama,
serpihan cerita yang tak terkumpul makna
sindiran yang tak mengena
aplikasi yang kerap berbeda

.... untuk yang terlupakan .....
mari melupakan, sambil berjalan
bualan adalah igauan kenyataan
tak melulu dengan bahasa buku dan membuat rangkuman

kepada yang terlupakan...
berharap kembali pertemuan yang terhidang sebuah jamuan makan...

Sunday, December 7, 2008

lepas



Seringai malam mulai memudarberganti dengan

kepekatan yang begitu mencekam.

Menenggelamkan semua asa yang menggelayuti jiwaku….

Menekan semua hasrat yang slama ini tak mampu ku bendung.

aku tak tau kemanakah perginya rasa itu…

tak kusadari kemanakah terbangnya rindu itu

dan aku tak mau tau kemanakah sirnanya air mata itu.

Mungkin malam telah menelan cintaku..

Mungkin angin telah mencuri semua rinduku..

Dan kuku-kuku tajam keputus asaan telah merenggut dan menguras habis air mataku.

Dan aku benar-benar..tidak tahu…apakah ada yang tertinggal…

Apakah ada yang tersisa…walau secuil.



Rs

nyanyian pasir pantai

Nyanyian pasir pantai

Kau adalah deburan ombak

Kau datang padaku saat laut bergolak

Kau hampiri aku perlahan.. lembut membuai…

mampu melenakan dan membawaku ke awang

Namun kadang kau datang dengan kekuatanmu, kau hempaskan tubuhku..

Kau dekap aku.. meremukkan sukmaku….

Tapi kau hanyalah deburan ombak

Aku sendiri.. tanpamu

Aku sepi .. tanpa kehadiranmu

Kutunggu kau kala fajar menyingsing

Kusebut namamu kala malam menjelang…

Kau datang padaku…

Kau rayu aku dengan tarianmu..

Kau buai aku dengan kasihmu

Kau dekap aku dengan kehangatanmu

Aku terlena… terbuai… mengawang..

Kau usik aku dengan diammu

Kau gelitik kakiku dengan jilatan ombakmu

Kau buai aku dengan hembusan deburmu

Namun kau tetaplah deburan ombak

Yang akan pergi kala yang lebih berkuasa memanggilmu kembali padanya…

Dan aku akan sendiri…sepi.. karena aku hanyalah pasir kecil ditepi pantai….


Rs

kelelahan jiwa


Semilir angin membelai wajahku..lembut membuai.

Perlahan mataku terpejam...

Bulir embun menyejukkan hatiku...kelegaan hingga sukma.


Kehampaan mulai sirna dan yang tertinggal hanyalah secuil makna........

Malam mulai merambah..mendaki bukit keheningan.

Alunan musik jiwa mulai memilin kegelisahan..mengikat... menyatu dengan nafas cinta.


Ketakjuban meninggalkan semua duka...

Memenggal semua kesendirian...

Indah kunikmati, kenikmatan kujiwai..


Rs

cinta


Waktu terus bergulir..tak terasa satu demi satu usiaku bertambah..langkah demi langkah..kulewati..beragam luka telah merongrong jiwaku

Namun aku masih disini!

Denyut nadiku sudah tak secepat dulu.. desah nafasku sudah tak memburu…

Aku tidak tahu apakah ini sesuatu yang lebih baik..

Namun aku masih disini!!

Sinar mataku sudah tak sekelam dulu..rona wajahku kembali mewarnai bumi…

Aku tak pernah tahu untuk apa semua ini…

Namun aku yakin aku masih disini!

Beribu pulau kudiami..beratus jiwa kuselami…jutaan hati kudatangi..namun kelelahan masih belum menyapaku. Aku tak tahu sampai kapan pengembaraan jiwa ini terus berlangsung. Namun aku tahu pasti aku masih disini…belum kemana-mana.

Tapi…dalam keyakinanku..ada sesuatu yang berubah..sesuatu yang mengalir..dan tak dapat kuhindari..

Ia begitu kuat merasuk kejiwaku..tanpa kusadari

Ia menyelinap dihatiku saat aku terpaku

Ia bertahta diragaku saat aku tanpa kekuatan

Tapi aku masih disini…..

Kucoba menyadari kehadirannya,kadang aku mampu..kadang ia benar-benar sirna

Kucoba menyentuh keberadaannya, kadang lembut..kadang begitu melukai

Tapi aku yakin aku masih disini dalam kuasanya…

Kucoba menghindari….. tapi ia mengejarku…..menebarkan pesonanya.. membentangkan jubahnya menjanjikan kelembutan. Aku tak kuasa menolak

Tapi aku masih disini..terpaku

Aku tidak buta..tapi mengapa aku tak mampu melihat

Aku tidak tuli..tapi mengapa gemuruhpun tak mampu kudengar

Aku masih hidup..tapi mengapa badai tak dapat kurasa

Yach…aku masih disini..

Ketika aku sadar aku tak bisa melihat apa-apa. Aku tak bisa mendengar sedikitpun dan aku benar-benar bisa…ia mampu membuatku berkicau, bersinar dan menyihirku selincah merpati. Tapi aku masih disini.

Aku begitu kedinginan, aku begitu hampa.. karena aku berusaha menghindarinya

Aku begitu terluka, aku begitu hina..ketika aku berusaha menolaknya

Dan aku masih tetap disini menikmati kehadirannya..

Aku sudah tak mampu menghindarinya, aku sudah tak kuasa menghentikan kehangatannya..biarlah semua mengalir bagai darah yang ada dalam tubuhku..

Karena ia akan terus membuat irama dalam jiwaku.

Aku mampu menikmati luka karena kehadirannya, aku mampu tertawa dalam duka karena bersamanya…biarlah ia terus bersamaku…karena sampai usai cerita kehidupan ini, ia tak akan mampu kuhindari..ia masih tetap sama.. ia akan terus hidup abadi…karena itulah ia dinamakan cinta




Rs

nyanyian malam

Temaram senja mulai memekat…

Nyanyian malam mulai terdengar….

Bersenandung lirih..menyayat hati…


Kini ia sendiri…tanpa teman..tanpa kekasih

Kini ia berduka..kehilangan semua rasa


Dulu ia bernyayi bersama bulan

Dulu ia menari bersama bintang

Namun itu dulu sekali…

Kala anak manusia belum mengenal dosa

Kala anak manusia masih rindu belaiannya


Dulu air matanya adalah mutiara

Dulu desahannya adalah wangi surga

Namun kini

Air matanya tak memberi arti apa-apa

Desahannya tak membawa makna

Dulu kedatangannya begitu dinanti

Saat para petani melepaskan semua kepenatan

Namun kini kehadirannya sudah tak ada beda dengan ketiadaannya

Saat petani semua sudah berdasi

Dulu kehadirannya menandakan bergantinya hari

Dulu kedatangannya adalah awal peristirahatan

Namun kini kehadiarannya tiada beda dengan ketiadaannya.

Saat dirinya tiada beda dengan siang.


Senandungnya kini begitu memilukan… mendambakan kasih anak manusia

Belaiannya bagaikan sembilu.. perih…

Namun ia tak berdaya… karena ia hanyalah sebuah waktu

Waktu yang mampu mencipta kesadaran akan hari akhir…

Waktu yang menandakan dosa-dosa

Karena ia hanyalah sebuah malam.


Rs

“TANGISAN JIWA”

puisi ini adalah kiriman dari seseorang teman dengan inisial "Rs". yang katanya pernah nangis selama 3 bulan sebelum tercipatanya puisi ini (dengan sedikit canda tentunya). Tanpa perjanjian formal Rs memperbolehkan puisi-puisinya di publish di blog "serpihan kata", yang menurut saya juga bernada "pelangi hitam putih"

kenapa "Rs" ?, padahal saya lebih suka dengan nama belakangnya "latifah" yang menurut saya melayu sekali dan anggun terdengar. berikut ini sedikit kilah pernyataan dari beliau


Rs: itu signature ku
Rs: untuk sesuatu hal yang informal aku signature dengan rs
Rs: dibaca ares
Rs: rs=ares
Rs: ares = dewa perang


“TANGISAN JIWA”


Ribuan kata tak akan mampu menuturkan duka yang kualami
Jutaan rasa tak akan mampu melukiskan lara hati yang kurasa
Ratusan purnama tak akan mampu menggantikan hari-hariku yang telah lalu.
Dimana bahagia pernah menghampiriku ketika ia bersamaku….bersama menentang badai, bersama menatap matahari..bersama mengintip malam.
Luka mampu kubalut, kesedihan kujadikan rona dalam hidup, derita dan tangis kuubah menjadi irama jiwaku….saat bersamanya!!!!!


Tapi sekarang ia pergi…bersama angin mengembara…terbang jauh.
Dan aku tak pernah tahu apakah ada niatnya untuk kembali bersamaku mengarungi lautan duka dan sungai airmata.
Ia adalah matahari hidupku….hidupku gelap tanpanya
Ia adalah purnama hidupku…hidupku kelam tanpanya
Ia adalah lagu jiwaku…jiwaku hampa tanpanya


Gemericik air sudah tak mampu kudengar
Sejuknya angin sudah tak mampu kurasa
Hangatnya mentari sudah tak mampu kunikmati
Aku buta dalam penglihatanku
Aku kaku dalam duniaku
Aku mati dalam jiwaku
Ia telah pergi…mewujudkan keinginannya…mencapai impiannya..menembus malam…menantang matahari…menguji kekuatannya..meninggalkanku seorang diri…
Ia telah pergi..membawa semua cintaku…semua asaku
Tak pernah kuduga ia tega meninggalkanku dalam dunia ciptaanya
Ia ajak aku kedunia yang baru…yang membuatku bagaikan seorang dewi kebahagiaan yang dipenuhi aroma cinta.


Dewi malam pernah tertunduk malu manatap sinar wajahku
Matahari pernah takluk dikakiku manatap pesona jiwaku
Burung-burung membisu menyaksikan keceriaanku mengalahkan ribuan syair cinta yang dialunkan seoarang bidadari
Rusna latifah: Tapi itu hilang dalam semalam…ketika kurasakan ia kan meninggalkanku…tanpa kata-kata…
Dan ia benar-benar telah meninggalkankau karena cintanya…
Ia enggan membawaku..ia campakkan aku kembali keduia nyata yang dipenuhi duka..derita dan air mata.


Kebahagiaanku kurasa bagaikan sembilu
Keceriaanku bagaikan gerhana
Tak ada yang dapat kunikmati tanpanya…aku adalah orang pertama yang berenang dalam genangan airmataku..dan aku tahu ini tak ada akhir..
Bahkan aku ragu apakah Tuhanku mampu mengakhiri lukaku..deritaku…tanpa kematian jiwaku…


"Rs"