Sunday, March 1, 2009

picisan

entah kali keberapa
roman ini kubaca
terkadang tak sengaja
tentang romansa melangitnya asmara
hingga samsara
berteman pelita nan sesekali enggan menyala
meredup cahaya hingga kubaca mengeja

mungkin sudah tak terhitung dengan jari
berapa kali kumpulan lembar ini menikam nurani
bernas namun hampa, kelakar tanpa tawa
walau resensi memberi cerita euforia

tak kunjung bisa kutamatkan cerita
waktu yang tak selalu memihakku
selaput mata pun menutupi aksara
cerita berujung di koma, membaca pun usai sudah

mungkin ruang pekat terkadang begitu memikat
kepulan asap terasa akrab
menyisakan waktu untukku membaca saja
hingga pertengahan cerita tak sampai menggunting pita

Saturday, February 7, 2009

rasa

sepekan kini delapan hari
meniti pada tepian matahari
jeda bersembunyi di balik kata kata mati
membuang keluh anganku menjauh
melego jangkar tambatkan sauh
nirwanaku di tempat gelagah tumbuh

Sunday, January 18, 2009

luruh

kemudian,,,
rindu pun mesti kutitipkan
pada pucuk hijau dedaunan
biar merasakan sentuhan embun dan meluruh dalam cumbuan hujan
membaur bersama tanah basah nan memendarkan keharuman

dan kemudian,,,
mengerat transisi perjalanan
menghapus persinggahan semalam
tak lagi menyisakan serpihan serpihan

sirna,, terhapuslah
tak mengapa memperbincangkan kamuflase fatamorgana
dan kemudian nikmatilah melara
dengan sembilu kata

Friday, December 26, 2008

CERITA SA(ha)JA

"Tak mesti apa yang kita lihat harus kita saksikan", manakala yang kita lihat ataupun yang tidak sengaja terlihat begitu terasa menyayat, bolehlah kita tinggalkan dan cukup dengarkan. Kelak kan kita jadikan ukuran untuk dipertimbangkan bagaimana meningkatkan keberanian dalam sebuah "kesaksian".

Meniti hari demi hari dengan panorama yang silih berganti dan berbeda, semoga akan semakin mengisi pundi-pundi nurani kita biar semakin peka, menuju kematangan jiwa serta menambah warna. Dan tentu jangan pula kecewa ketika kita menemui panorama yang sama seperti yang kita alami sebelumnya, karena tidak semuanya harus sesuai dengan keinginan kita, maka yakinlah dengan "Maharencana".

Pasti..! pasti kita takkan pernah bisa menunggangi kuda sembrani, yang bisa kita kehendaki, mengendalikannya pada tanah suci yang kita selalu pijaki pun dapat pula mengangkasa bersama kepakan sayapnya. Sebab kita telah sama-sama tahu, bagaimana kita menghadapi "realita" dan bagaimana pula menyikapi "fantasi".

Pasti..! kau telah dapat membaca, bahwa aku tidak piawai bercerita, dan tidak pernah membaca cerita lewat pandangan mata, ketika kita membuka wacana bagaimana hitam putih dan berwarnanya hidup di alam fana, saat bersama menyeruak "halimun di tengah kota" pada hujan ketiga.
Entah sengaja atau tidak, aku lebih banyak terdiam dengan sedikit gurauan, mengiringi ceracau-mu yang begitu lincahnya bercerita dan penuh senyum ceria walau cerita yang terlontar tentang derita, getirnya sebuah rasa yang bukan hanya di lidah saja.

berbeda,,,, ya tentu saja!.
sama bedanya ketika kau berujar bahwa "kau mencintai bulan", dan aku bilang "aku suka hujan". Tidak semuanya harus sama, yang sama adalah "kewajiban" kita dan mungkin persamaan "perjalanan dalam menyusuri waktu hingga sampai kepada sebuah tempat yang kita tuju". entah dengan berjalan langsung atau berhenti pada "persinggahan"

Thursday, December 18, 2008

untuk yang terlupakan

.....untuk yang terlupakan,
tersusun rapat jari tangan maaf kuhaturkan
ketika lambai tangan tak terangkat dan senyum tak tervisualisasikan
sewaktu kau dan aku bertemu badan
pada setapak jalan yang lurus tak bersimpangan

bukan terburu-buru tapi meragu,,
apakah benar rupamu berjalan di depanku
dengan sejuta kelu
menggenggam sekepal mimpi
yang kemarin kau beli
pada penjaja asa pengepul nurani

.....untuk yang terlupakan
maafkan! telah mengajakmu membaca roman picisan
hingga terhisap emosi dan menjadi seorang pemeran
menjadi pelakon ataukah korban

mengikuti kata mengindahkan koma
sampul tertutup dan kita tertawa
menipiskan perbedaan kekal dan fana

tidakkah sewaktu membaca banyak plot yang serupa
antara kepekatan darah dan deraian air mata
bahkan majas tak menjadi umpama,
serpihan cerita yang tak terkumpul makna
sindiran yang tak mengena
aplikasi yang kerap berbeda

.... untuk yang terlupakan .....
mari melupakan, sambil berjalan
bualan adalah igauan kenyataan
tak melulu dengan bahasa buku dan membuat rangkuman

kepada yang terlupakan...
berharap kembali pertemuan yang terhidang sebuah jamuan makan...