Tuesday, May 20, 2008

membaca angin

kalau aku membaca angin bukan menangguk seribu ingin
hanya mengeja kumpulan aksara dari sepoi bahkan badainya

.....hanya membaca.....
.....karena.....
pada angin tak pandai ku menyapa
pada angin tak dapat ku bertanya
jika bibir yang kubaca, kutakut mata berkaca
.....hanya membaca.....

pernah kukabarkan pada mereka
takkan lagi kukirimkan diorama
tentang sepasang camar laut tepian samudera
karena akupun tak lagi tahu
dimanakah mereka bercumbu

....hanya membaca....
dari rentak-rentak kakiku yang kian berdebu
telah kucoba berikan segumpal darah beku
dari dalam dadaku,,,,,, bukan hati batu

Saturday, May 10, 2008

secangkir ekspresi


Hanya secangkir ekspresi yang mampu tertuang disini, seiring denting-denting yang mengalun dari hasil racikan kopi pagi. Datar saja, tidak ada yang luar biasa dari ekspresi yang terpancar, senyum yang tidak manis dan kadang harus dipaksa, bukan tidak ikhlas namun begitulah adanya.

Rupanya ada yang perlu dirubah, tidak semuanya, tapi memang harus ada. Ketika dahulu "ekspresif" adalah darahku. Alirannya lah yang mengendalikan pancaran wajah, ketika tidak suka, maka aku "angkat senjata" atau "tinggalkan saja".
HMMM, episode peran dalam sandiwara. Disaat itu mungkin jika ada penghargaan "aktor yang barakting terburuk", maka "piala citra" untuk saya.

Rupanya pergeseran perubahan ekpresi bukan hanya karena tekanan dari agresor ganas yang bernama "usia". Faktor "mengalah"pun tidak begitu banyak ambil peran didalamnya. Kadang harus mengiris sebuah kata kejam yang bernama "terpaksa".

Rupanya remah-remah yang tertumpah pun harus kembali dimasukan kedalam "tampah" mengayak, kemudian memilah-milah, mana yang harus di telan dan mana pula yang harus di kunyah.

Secangkir ekspresi pun terselip senyum bercampur aroma kopi, sebelum pagi akan pergi dan berganti langit putih pendarnya cahaya Matahari. Biarkan saja aroma dan manisnya secangkir kopi aku buka dan lepaskan ke "mayapada", kemudian hitam dan pahitnya tertinggal untukku saja, sebagai bekal ekspresi selanjutnya.


Secangkir ekspresi terhenyak pada sebuah kursi, mempertanyakan nada iri hati yang diperbolehkan Illahi tentang lelaki muda yang berkaca pada cermin nyata. Momentum setelah wudhu sebelum dhuha. Sambil berkaca mengusap dagu dan beberapa helai rambut yang tumbuh menghiasinya, "benarkah disini tempat bergalantungnya para bidadari"?

kapankah ia nyata? ataukah memang hanya mampu menanti "hurun ien" saja?
ahhh,,, pertanyaan saya tak tahu ditujukan kemana. "sudahlah"


secangkir ekspresi hanya secangkir saja, tidak lebih!!
secangkir ekspresi tidak perlu mendalam untuk dipahami!!
secangkir ekspresi tidak banyak berarti, bukan seperti khatib pada khotbah jumat, yang berwasiat untuk semua umat. Secangkir ekspresi bukan sastra pujangga hanya balutan kata dari jari-jari yang masih terpakai sebelum "mati guna".