Sunday, June 12, 2011

inkonsistensi

makin menikam ketika pekat menjelang,

hitam menghantam,,

kelam meradang,

dan aku disudutkan waktu yang terus memburu

dimana aku,,

hilang pada sajak petang ~ sirna pada senja

aku merindu rasamu,

kala pesakitan dimamah waktu,

hingga bersetubuh dengan jemu

jika distorsi tak layak kupakai lagi,

pulangkan kembali belati kata ketangan kiri



menyepuh waktu

Sepekan penuh menyepuh waktu tak harap kilau, hanya melepas debu yang melekat pada ujung sepatu// memindai angan kadang mengandalkan hujan datang menjadi pembersih secara perlahan// kataku laksana pencari jejak namun hanya rimba didalam kotak,, awal dan akhir bertemu dititik itu// menipu... mungkin siasat jitu, lewati labirin semu// saatnya menyepuh waktu dengan menggeser PENANDA BUKU//

jalan buntu

membeku aku bersama waktu, dilingkung debu dan tak membekas kecup didahi bayu, bak kehilangan penanda buku

ketika hujan mengiringi angin tak menggiring angan

Tak penting bagiku mana yang lebih dulu//
sebelum atau setelah hujan luruh //
bukankah tabu tak kasat mata buatmu //
ekspetasi mesti mengawini improvisasi//
walau tak berbenih puisi //
aku mesti menikmati ....
tarian kaki telanjang dimanapun hujan datang //