terendap

sajian malam dari balik lukisan
suarakan desah dari sunyi ruangan
menyepuh malam dingin membungkam
bermaya makna gelinjang kata

siluet hitamku kembali
menembus dimensi
lalui celah-celah kumenengadah
hantam nuansa warna yang kian menggoda

maaf termohon yang terlupa
malam ini kuagungkan munafikku

birahiku kelu.....
aku yang tak mau ataukah kau yang tak mampu
tak bisa memeluk, mencumbu sosokmu

Maafkan aku yang hijau lugu
tak mampu mengecup manis bibirmu
karena bibirku
baru bisa mengecap manisnya susu
dari sepasang payudara ibu

cerita tengah hari


Siang ini terik sekali, cahaya matahari terasa panas membakar hingga membuat aku menyeringit. Saat tengah hari yang selalu terjadi fenomena bayang-bayang berada dibawah telapak kaki. Mungkin ini sebuah momentum bagi kita untuk bisa menginjak-injak diri sendiri atau memang tidak ada bayang-bayang yang mengikuti.

Hanya sedikit membaca goresan dari Kahlil gibran, tidak kubaca "syair Ronggowarsito", tidak pula sebuah buku yang bertajuk "ayat-ayat setan", apalagi tentang Salman rusdi yang di cari-cari "kepalanya" oleh Ayatullah khomeini. Bukan itu, semua itu terlalu besar untuk "otak kosongku".

Ada apa disiang ini?, aku membathin dan tak mampu menjawab pertanyaan yang kuajukan sendiri. Sebuah kecamuk, sebuah pertempuran!!. bukan Baratayudha bukan pula "Holly war".
Aku telah membiarkan benakku menjadi medan perang siang ini. Menjadi tempat pertempuran antara "sisi kiri" dan "sayap kanan". Merelakan benak hitamku kepada "mereka" untuk menjadi ladang pembantaian.

Lalu bagaimana lagi?. Aku tak mampu mengatur strategi, tidak bisa memposisikan dimana letak "aku", "kamu" dan "mereka". Dimana aku harus berada?, pada "sisi kiri" atau "sayap kanan"? dan tak mungkin aku mengambil peran "oposisi" lantaran mereka semua adalah oposan. Lantas, tetap berada di tengah-tengah pertempuran??. Tentu aku tidak mau hanya menjadi "umpan peluru".

Apakah harus ikut-ikutan menyandang dan mengokang "kalashnikov" menyeruak diantara mereka yang telah memberondong dengan AK 47, lalu berteriak " lo pikir lo siapa?", Sambil terus memuntahkan semua peluru???.

Aahh!, sebuah tanya yang tak perlu di jawab, sebuah episode yang tak berkesudahan, namun sejenak bisa kuredam. Satu helaan nafas rasanya cukup untuk menghentikan perang bathin ini. Memang tidak akan pernah usai, hanya menyiasati supaya mereka tidak lagi bertikai dan mencari jalan damai.

Aahh! untuk ketenangan sejenak ini rasanya aku berhak memanjakan diri disiang ini. Sebotol minuman dingin bersoda untuk menyegarkan kepala. Mumpung di kantong masih ada uang sisa. hehehehe!

****
Seperti biasa, tidak ada pesan berarti disini, tetapi sedikit menambah arti :
jika kita mampu untuk jujur pada diri sendiri itu sudah mewakili persyaratan untuk menjadi punggawa pada kerajaan kesetiaan.



surat untuk bidadari

suatu hari nanti
kuberanikan diri tuk tawarkan hati
..... dengan genggaman .....
bukan sepucuk puisi
yang terselip pada sayap seekor merpati

..... bukan begini
ketika layar tak terkembang
pengayuh patah
dan terombang ambing
ditengah ganasnya gelombang

..... untuk hari ini
biarkan kau menjadi sosok yang kupuja
dari balik seribu pintu
mencuri pandang dan menciumi harummu
..... atau .....
biarkan aku termangu
menatapmu terbang, melesat, melayang
bersayapkan selendang

Suatu hari nanti
tiap-tiap langkahmu kan ku-iringi dalam suka dan sepi
mengantarmu pada tepian mandi
dibening telaga yang bertahtakan pelangi

celoteh puisi

"Menulis tidak perlu belajar, berguru, mengikuti kursus, orientasi, penataran atau apapun namanya. Apalagi sampai belajar kepada mereka yang secara faktual tidak pernah menulis atau produktivitasnya mandul".
- Bagaimana agar fasih menulis ?
Tulis apa yang hendak ditulis, pasti jadi tulisan.


Walapun pada kenyatannya menulis tidak semudah membaca, bagi saya apa yang ditulis dalam buku "menulis sangat mudah" memberikan ruang kebebasan yang sebesar-besarnya untuk berekspresi dalam bentuk tulisan. Pernyataan diatas saya kutip dari buku "Tips menulis" yang ditulis oleh Bapak ini .


Kenapa puisi?

Sebenarnya bukan suatu pilihan, cuma faktor kebetulan atau sudah terlanjur saja isi dari sebagian "tong sampah" (baca : blog) ini adalah puisi. Walaupun cuma puisi-puisian, PeDe aja lagi!!. Sekedar menulis apa yang ingin saya tulis. Hanya mencoba merangkai kata-kata, syukur-syukur enak dibaca dan ada yang suka.

Mungkin saja baru sebatas ini yang saya bisa dan puisi yang saya ingin. Karena mau nulis tentang Matematika sudah pasti saya tidak bisa, apalagi kimia. Lha wong otak isinya cuma pas-pasan dan lagi waktu kelas 2 SMA saya pernah di usir guru matematika dan tidak boleh ikut pelajarannya selama 2 minggu lantaran waktu pelajarannya suka suit-suitin n cuma merhatin gurunya yang cantik, hehehe.

Kadang-kadang juga saya tidak mengerti kenapa berpuisi, karena tidak ada alasan kuat yang melatar belakangi untuk menulis puisi. Latar belakang pendidikan pun bukan sastra, jadi wajar saja jika tidak ada prestasi yang perlu dibanggakan dibidang ini, kecuali Menjadi juara lomba baca puisi, itupun sewaktu kelas V SD kemudian dikirim ketingkat kecamatan dan akhirnya tidak mendapat juara apa-apa alias peserta penggembira saja, hihihi.


Kenapa Puisi ?

Ada orang bilang "puisi adalah ungkapan isi hati", saya setuju dan mengamini. Mungkin adalah salah satu alasan yang mendasari saya untuk bercerita dengan perandaian, perumpamaan kata-kata. Rasanya lebih nyaman ketimbang bercerita dengan bahasa lugas, apalagi ketika bercerita tentang luka, sakit hati atau segala cerita yang bernada sedih.

"secara gue dicipatakan dengan kelamin laki-laki plus "casing" (baca : wajah) yang sangar pula alias gak "smiling face'. Sudah tentu kalo curhat dengan nada sedih terlalu sering, orang yang langsung mendengar bukannya sayang malah mungkin gue di kemplang".

Sangat lah wajar jika saya boleh berpendapat kalau puisi itu "multitafsir", bisa saja terdapat perbedaan dalam mengartikan antara orang yang satu dengan yang lain. Atau mungkin saja artinya bisa berbeda tergantung dari suasana hati dari pembaca. Karena saya sendiri sangat banyak tidak mengerti ketika membaca syair-syair atau puisi dari penyair "beneran" atau penulis puisi kenamaan. "masih menurut saya", memang puisi tidak perlu observasi, namun tidak serta merta kita bisa merekayasa dan merangkai kata-kata jika tidak merasakan atau mengalami sebuah peristiwa, momentum atau apalah namanya.

Akhirnya dengan segala ketiadaan dan keterbatasan bahkan pengetahuan yang seadanya saya mencoba "menulis apa yang ingin saya tulis", mencoba menikmati dan berceloteh dengan puisi. Sama halnya ketika saya membaca dan menikmati tulisan pengalaman dari Harmita Desmerry ataupun kenindahan puisi dari uni Meiy.

Jadi, dengan segala kekurangan pula saya menulis apa yang ingin saya tulis, dan izinkan mendobrak pepatah lama menjadi :

"Kalaupun hidup bercermin bangkai, tak mesti berkalang tanah"

toh masih ada kriteria bangkai yang halal untuk dimakan,,,, bukankah begitu????




Lupa

Jeda yang disengaja, berpura sibuk dunia menjadi abdi pelayan tantrum bayi bayi berbulu kaki test blog lagi yang sudha lupa password.