opera kopi dan ekspresi

masih ada sajak yang tak bisa kuungkap
saat mencoba membaca ekspresi
mata dan hati yang kau perankan
ketika berhadapan dengan pembatas meja jamuan setengah lesehan

sebab akupun sibuk sendiri
memungut ekspresi yang kau tumpahkan
diatas meja yang bertumpuk novel dan koran

mungkin sesekali aku kupalingkan pandang
pada secangkir kopi yang kutuang sendiri
karena racikan rasa ini lebih mudah kupahami

bukan takut membaca peran
tapi ekpresi kian tak bertepi
maka kupilih maka kupilih sunyi

barangkali sajak takkan kuungkap
biarlah menyisakan sepenggal harap

1 comment:

Anonymous said...

kopi???
Mengingatkanku akan sebuah cerita...

Cerita ttg kebohongan....

Hmmmpphh....

Lupa

Jeda yang disengaja, berpura sibuk dunia menjadi abdi pelayan tantrum bayi bayi berbulu kaki test blog lagi yang sudha lupa password.