apatis

aku hanya menunjuk dengan mata, tak tajam namun mengena
kepada barisan bagan-bagan di tengah samudera
seraya kuceritakan kepada awal senja tentang pusara
yang tak kuberi nama
hanya kutaburi bunga-bunga kota

aku terpaku....
gemuruh tak kurasa gaduh..
desir angin, debur ombak pun tak nampak

kemana indera-ku
tersesatkah kau semasa di kota
ataukah
telah mati ketika terhempas ombak
membuih dan terbawa angin laut?

aku bisu.. di antara ceracau jiwa yang memuntahkan jutaan kata pada tiap denyut nadi
aku tuli.. manakala teriakan mereka sengaja terarah ke telinga
mungkin hanya mata yang masih mampu melihat jerit mereka
....aku.. mati kata
...aku.. mati rasa

hening di beranda nan tak bernama

sebenarnya tak hendak berkata-kata
pada api yang menyala pada batas dua cahaya
memanas,,, panjang menyala.. dan memaksaku menghembuskan nafas kedua

sungguh,,, aku sedang tak ingin banyak bicara
karena diam lebih terasa indah kini adanya

mungkin hanya pada malam terkadang aku bicara dan men-jurnal kata-kata
memadukan majas dalam neraca

pesan dalam tempayan

memang tak seharusnya aku masih bertanya
tentang apa dan kenapa!.
perjalanan terasa begitu tergesa-gesa,
melaju dan tak mau mendengar kata "menunggu"

mungkin aku terlalu banyak membaca rambu-rambu
hingga tak pernah mau
menangkap awan nan kian menawan
dan tak mampu mencipta hujan

lalu kupersilahkan kau katakan
aku telah melakukan kebodohan
ketika masih kutundukkan kepala kedalam tempayan

tetapi...
bukanlah salah kelak kan kuceritakan
bahwa tempayan menyimpan kesejukan
ketika kau berkaca wajahmu kan terlukis di permukaan
makin kau dekati maka sejuknya kan hingga ke pori-pori

memang tak luar biasa laksana telaga yang memantulkan cahaya
dan tak mungkin pula kau temukan "cupu manik astagina"

namun lebih baik begitu, ketimbang kembali kutinggalkan tanya kepada kamu dan mereka
"kenapa kita terlebih dahulu membasuh telapak tangan sebelum membasuh muka?"

eksistensi

melenguh menghela pedati
dibawah tangan pemegang cemeti
meringkik membawa kelana tiada pelana
tunggangan durjana berbalut norma

daur birahi sedari tetesan embun pagi
hingga tirai hitam terkembang mengangkangi
pertanda kelam merajai

mutlak tak terelak
berkelebat sajak diantara mesin-mesin handal perusak akhlak

menunggu persetubuhan bulan bintang dan matahari
tertanam disini
tak hendak memutus kaji

Lupa

Jeda yang disengaja, berpura sibuk dunia menjadi abdi pelayan tantrum bayi bayi berbulu kaki test blog lagi yang sudha lupa password.