aaahhh,, rasanya sudah lama sekali, debunya sudah hampir setebal telunjuk jari,,,
bahkan untuk memulainya cukup membuat malu hati...
ahhhhh.... mulai saja dari sini,, tak apalah sudah pernah mati suri
ya bisa saja terjadi karena kemarin-kemarin ini matahari tak pernah memberi
kepada bulan untuk memunculkan diri
selalu saja siang hari...
ahhhhh,,, lama sekali kumulai lagi
sebab langit yang semakin tinggi, dan tiada perubahan berarti disini, semuanya masih sama, tentang goresan pada hitam putihnya pelangi yang terangkai dari serpihan cerita-cerita lara dan suka tentang kita semua
Showing posts with label beranda. Show all posts
Showing posts with label beranda. Show all posts
celoteh puisi
"Menulis tidak perlu belajar, berguru, mengikuti kursus, orientasi, penataran atau apapun namanya. Apalagi sampai belajar kepada mereka yang secara faktual tidak pernah menulis atau produktivitasnya mandul".
- Bagaimana agar fasih menulis ?
Tulis apa yang hendak ditulis, pasti jadi tulisan.
- Bagaimana agar fasih menulis ?
Tulis apa yang hendak ditulis, pasti jadi tulisan.
Walapun pada kenyatannya menulis tidak semudah membaca, bagi saya apa yang ditulis dalam buku "menulis sangat mudah" memberikan ruang kebebasan yang sebesar-besarnya untuk berekspresi dalam bentuk tulisan. Pernyataan diatas saya kutip dari buku "Tips menulis" yang ditulis oleh Bapak ini .
Kenapa puisi?
Sebenarnya bukan suatu pilihan, cuma faktor kebetulan atau sudah terlanjur saja isi dari sebagian "tong sampah" (baca : blog) ini adalah puisi. Walaupun cuma puisi-puisian, PeDe aja lagi!!. Sekedar menulis apa yang ingin saya tulis. Hanya mencoba merangkai kata-kata, syukur-syukur enak dibaca dan ada yang suka.
Mungkin saja baru sebatas ini yang saya bisa dan puisi yang saya ingin. Karena mau nulis tentang Matematika sudah pasti saya tidak bisa, apalagi kimia. Lha wong otak isinya cuma pas-pasan dan lagi waktu kelas 2 SMA saya pernah di usir guru matematika dan tidak boleh ikut pelajarannya selama 2 minggu lantaran waktu pelajarannya suka suit-suitin n cuma merhatin gurunya yang cantik, hehehe.
Kadang-kadang juga saya tidak mengerti kenapa berpuisi, karena tidak ada alasan kuat yang melatar belakangi untuk menulis puisi. Latar belakang pendidikan pun bukan sastra, jadi wajar saja jika tidak ada prestasi yang perlu dibanggakan dibidang ini, kecuali Menjadi juara lomba baca puisi, itupun sewaktu kelas V SD kemudian dikirim ketingkat kecamatan dan akhirnya tidak mendapat juara apa-apa alias peserta penggembira saja, hihihi.
Kenapa Puisi ?
Ada orang bilang "puisi adalah ungkapan isi hati", saya setuju dan mengamini. Mungkin adalah salah satu alasan yang mendasari saya untuk bercerita dengan perandaian, perumpamaan kata-kata. Rasanya lebih nyaman ketimbang bercerita dengan bahasa lugas, apalagi ketika bercerita tentang luka, sakit hati atau segala cerita yang bernada sedih.
"secara gue dicipatakan dengan kelamin laki-laki plus "casing" (baca : wajah) yang sangar pula alias gak "smiling face'. Sudah tentu kalo curhat dengan nada sedih terlalu sering, orang yang langsung mendengar bukannya sayang malah mungkin gue di kemplang".
Sangat lah wajar jika saya boleh berpendapat kalau puisi itu "multitafsir", bisa saja terdapat perbedaan dalam mengartikan antara orang yang satu dengan yang lain. Atau mungkin saja artinya bisa berbeda tergantung dari suasana hati dari pembaca. Karena saya sendiri sangat banyak tidak mengerti ketika membaca syair-syair atau puisi dari penyair "beneran" atau penulis puisi kenamaan. "masih menurut saya", memang puisi tidak perlu observasi, namun tidak serta merta kita bisa merekayasa dan merangkai kata-kata jika tidak merasakan atau mengalami sebuah peristiwa, momentum atau apalah namanya.
Akhirnya dengan segala ketiadaan dan keterbatasan bahkan pengetahuan yang seadanya saya mencoba "menulis apa yang ingin saya tulis", mencoba menikmati dan berceloteh dengan puisi. Sama halnya ketika saya membaca dan menikmati tulisan pengalaman dari Harmita Desmerry ataupun kenindahan puisi dari uni Meiy.
Jadi, dengan segala kekurangan pula saya menulis apa yang ingin saya tulis, dan izinkan mendobrak pepatah lama menjadi :
"Kalaupun hidup bercermin bangkai, tak mesti berkalang tanah"
toh masih ada kriteria bangkai yang halal untuk dimakan,,,, bukankah begitu????
Kenapa puisi?
Sebenarnya bukan suatu pilihan, cuma faktor kebetulan atau sudah terlanjur saja isi dari sebagian "tong sampah" (baca : blog) ini adalah puisi. Walaupun cuma puisi-puisian, PeDe aja lagi!!. Sekedar menulis apa yang ingin saya tulis. Hanya mencoba merangkai kata-kata, syukur-syukur enak dibaca dan ada yang suka.
Mungkin saja baru sebatas ini yang saya bisa dan puisi yang saya ingin. Karena mau nulis tentang Matematika sudah pasti saya tidak bisa, apalagi kimia. Lha wong otak isinya cuma pas-pasan dan lagi waktu kelas 2 SMA saya pernah di usir guru matematika dan tidak boleh ikut pelajarannya selama 2 minggu lantaran waktu pelajarannya suka suit-suitin n cuma merhatin gurunya yang cantik, hehehe.
Kadang-kadang juga saya tidak mengerti kenapa berpuisi, karena tidak ada alasan kuat yang melatar belakangi untuk menulis puisi. Latar belakang pendidikan pun bukan sastra, jadi wajar saja jika tidak ada prestasi yang perlu dibanggakan dibidang ini, kecuali Menjadi juara lomba baca puisi, itupun sewaktu kelas V SD kemudian dikirim ketingkat kecamatan dan akhirnya tidak mendapat juara apa-apa alias peserta penggembira saja, hihihi.
Kenapa Puisi ?
Ada orang bilang "puisi adalah ungkapan isi hati", saya setuju dan mengamini. Mungkin adalah salah satu alasan yang mendasari saya untuk bercerita dengan perandaian, perumpamaan kata-kata. Rasanya lebih nyaman ketimbang bercerita dengan bahasa lugas, apalagi ketika bercerita tentang luka, sakit hati atau segala cerita yang bernada sedih.
"secara gue dicipatakan dengan kelamin laki-laki plus "casing" (baca : wajah) yang sangar pula alias gak "smiling face'. Sudah tentu kalo curhat dengan nada sedih terlalu sering, orang yang langsung mendengar bukannya sayang malah mungkin gue di kemplang".
Sangat lah wajar jika saya boleh berpendapat kalau puisi itu "multitafsir", bisa saja terdapat perbedaan dalam mengartikan antara orang yang satu dengan yang lain. Atau mungkin saja artinya bisa berbeda tergantung dari suasana hati dari pembaca. Karena saya sendiri sangat banyak tidak mengerti ketika membaca syair-syair atau puisi dari penyair "beneran" atau penulis puisi kenamaan. "masih menurut saya", memang puisi tidak perlu observasi, namun tidak serta merta kita bisa merekayasa dan merangkai kata-kata jika tidak merasakan atau mengalami sebuah peristiwa, momentum atau apalah namanya.
Akhirnya dengan segala ketiadaan dan keterbatasan bahkan pengetahuan yang seadanya saya mencoba "menulis apa yang ingin saya tulis", mencoba menikmati dan berceloteh dengan puisi. Sama halnya ketika saya membaca dan menikmati tulisan pengalaman dari Harmita Desmerry ataupun kenindahan puisi dari uni Meiy.
Jadi, dengan segala kekurangan pula saya menulis apa yang ingin saya tulis, dan izinkan mendobrak pepatah lama menjadi :
"Kalaupun hidup bercermin bangkai, tak mesti berkalang tanah"
toh masih ada kriteria bangkai yang halal untuk dimakan,,,, bukankah begitu????
November Rain HBH Monas
sepuluh rindu berpadu menjadi satu
dalam deraian hujan syahdu
lain waktu berharap 10 rindu menjadi seribu
dalam deraian hujan syahdu
lain waktu berharap 10 rindu menjadi seribu
Mendung mengawali pagi jakarta pada 3 november tahun ini, awan yang berarak hitam tidak menyurutkan langkah saya untuk menghadiri "halal bihalal" beberapa bloger yang sedianya diadakan di kawasan lapangan IKADA (jadul banget yakkk???), diganti aja bahasa menjadi "kawasan monas".
Awalnya sempat di landa keraguan untuk ikut perhelatan tersebut dikarenakan situasi dan kondisi saya yang sedang tidak memungkinkan, namun berkat isnuansa maharani (nunik) yang terus meyakinkan saya maka sayapun antusias untuk hadir.
Walaupun hujan menghadang, tapi saya tetap melaju dengan kebulatan tekad yang ada. tujuan gak langsung ke "monas", tapi ke Plaza semanggi, karen sebelumnya harus ketemuan dulu sama nunik. Pukul 11.30 akhirnya nyampe juga di tempat tujuan dengan guyuran hujan yang cukup lebat.
Menunggu 1 jam cukup buat saya untuk keliling-keliling sebentar di seputaran plaza sebelum orang yang di tunggu muncul. HP berdering, nada SMS terdengar, dibaca tulisan, "bang saya sudah sampe di jembatan". SMS di balas "ya udah langsung masuk aja" dan terkirim. ini kali pertama saya ketemu nunik di lantai 3 plaza semanggi, salaman dan sedikit senyum. tnpa banyak basa-basi saya setuju ketika tawaran ngopi bereng di ajukan jeng ini. terpilihlah "starbuck". mulai deh disitu terjadi perbincangan dari urusan pribadi sampai kepada urusan negara, hehe walapun pengetahuan saya seadanya. karena saya lebih banyak ngocol dan agak-agak konyol. Jeng ini ternyata asyik banget di ajak ngalor-ngidul.
sekitar pukul 14.00 kami (saya dan nunik) bergegas meninggalkan 2 cangkir kopi yang sudah kosong untuk menuju kawasan monas tempat tujuan utama. "busway" jadi pilihan kendaraan yang tepat untuk tiba kesana. "bang kalo naik taksi ntar macet lagi", kata nunik. "emang sejak kapan jakarta kagak macet mbak???!!!. kamipun menumpang bus yang mendapat dispensasi macet dari pemerintah tersebut. halte di depan atmajaya mengawali perjalanan hingga tujuan ke halte transit harmoni dengan maksud bisa menghemat tenaga biar bisa deket jalannya ke kawasan pintu selatan (kecian si nunik ntar klo kebanyakan jalan bis gede betisny, hehehe). ternyata pilihan saya tepat untuk turun di halte "balaikota" yang langsung masuk pintu selatan.
Masih dibawah guyuran hujan kami melangkah dan telepon menelpon pun terjadi untuk dpat berkumpul pada satu titik. Rekan Bloger yang pertama kami jumpai adalah Agung dan Agus Syafi, disusul dengan kedatangan Meity seterusnya Pipit dan Purwa, selang beberapa detik muncul Agaz dan Dhika. ternyata bang Dhika mengklaim dirinya sebagai bloger pertama yang tiba dikawasan monas untuk acra ini.
Atas kesepakatan bersama (9 orang), kita-kita memilih nongkrongin warung terdekat. yang menarik adalah diwarung ini terjadi sedikit insiden, dimana yang "empunya" warung mengeluarkan sedikit "sindiran halus" salah satu ciri khas kita sebagi orang timur, hehehe. maklum!! mereka menjual makanan tapi kami semua hanya meminum "teh" dalam kemasan botol. Alhasil kamipun memilih berpindah tempat.
Pada sesi ini pulalah ketika kami akan berpindah tempat, datang seorang bloger lagi yang udh cukup kondang (setidaknya bagi saya), yaitu iko yang datang dijemput salah seorang pemrakarsa perhelatan ini (agung). ternyata dugaan gw bener, si iko ini orangnya cool, calm n confidence, banyak senyum dan sedikit bicara (mungkin karena kedinginan kali ya).
Genap sudah 10 orang untuk transmigrasi dari warung dekat pintu selatan menuju stasiun gambir. tempat berlabuh selanjutnya adalah sebuah cafe yang saya gak inget "judulnya" apa.
sangat banyak obrolan yang terlontar disini, ada yang serius dan tentu adapula yang ketawa ketiwi. tambah lagi gaduhnya suara kereta api yang melintas tepat diatas kami.
Tanpa terasa warna hari sudah berubah, malam sudah bertambah pekat di tambah dinginnya suhu hari itu (tapi perbincangan tetap hangat). Akhirnya diskusi ringan ditutup dengan pertanyaan yang di ajukan ke 10 rekan-rekan bloger. pertanyaan yang mendasar "kenapa ngeblog dn sejak kapan?". tentunya beragam jawaban yang diterima. sudah lewat dari puku 20.30 Wib kamipun sepakat untuk membubarkan acara "halal bi halal" untuk dapat berkumpul lagi di waktu lain.
Bagi saya sendiri nilai lebih yang dpat dijadikan hikmah ialah "kebersamaan dan kehangatan yang terjalin", walaupun dalam guyuran hujan dan baju yang udah lepek semua, kita msih bisa menunjukkan rasa kebersamaan. hal ini semakin mempertegas bahwa kita kita adalah mahkluk sosial yang tidak akan lepas dri acara kumpul-kumpul, hahahaha.
Terima kasih untuk kebersamaanya : Nunik, Meity , Pipit, Iko, Agung, Agus, Agaz, Dhika dan Purwa, dan saya sendiri. semoga bisa menambah makna hidup.
Awalnya sempat di landa keraguan untuk ikut perhelatan tersebut dikarenakan situasi dan kondisi saya yang sedang tidak memungkinkan, namun berkat isnuansa maharani (nunik) yang terus meyakinkan saya maka sayapun antusias untuk hadir.
Walaupun hujan menghadang, tapi saya tetap melaju dengan kebulatan tekad yang ada. tujuan gak langsung ke "monas", tapi ke Plaza semanggi, karen sebelumnya harus ketemuan dulu sama nunik. Pukul 11.30 akhirnya nyampe juga di tempat tujuan dengan guyuran hujan yang cukup lebat.
Menunggu 1 jam cukup buat saya untuk keliling-keliling sebentar di seputaran plaza sebelum orang yang di tunggu muncul. HP berdering, nada SMS terdengar, dibaca tulisan, "bang saya sudah sampe di jembatan". SMS di balas "ya udah langsung masuk aja" dan terkirim. ini kali pertama saya ketemu nunik di lantai 3 plaza semanggi, salaman dan sedikit senyum. tnpa banyak basa-basi saya setuju ketika tawaran ngopi bereng di ajukan jeng ini. terpilihlah "starbuck". mulai deh disitu terjadi perbincangan dari urusan pribadi sampai kepada urusan negara, hehe walapun pengetahuan saya seadanya. karena saya lebih banyak ngocol dan agak-agak konyol. Jeng ini ternyata asyik banget di ajak ngalor-ngidul.
sekitar pukul 14.00 kami (saya dan nunik) bergegas meninggalkan 2 cangkir kopi yang sudah kosong untuk menuju kawasan monas tempat tujuan utama. "busway" jadi pilihan kendaraan yang tepat untuk tiba kesana. "bang kalo naik taksi ntar macet lagi", kata nunik. "emang sejak kapan jakarta kagak macet mbak???!!!. kamipun menumpang bus yang mendapat dispensasi macet dari pemerintah tersebut. halte di depan atmajaya mengawali perjalanan hingga tujuan ke halte transit harmoni dengan maksud bisa menghemat tenaga biar bisa deket jalannya ke kawasan pintu selatan (kecian si nunik ntar klo kebanyakan jalan bis gede betisny, hehehe). ternyata pilihan saya tepat untuk turun di halte "balaikota" yang langsung masuk pintu selatan.
Masih dibawah guyuran hujan kami melangkah dan telepon menelpon pun terjadi untuk dpat berkumpul pada satu titik. Rekan Bloger yang pertama kami jumpai adalah Agung dan Agus Syafi, disusul dengan kedatangan Meity seterusnya Pipit dan Purwa, selang beberapa detik muncul Agaz dan Dhika. ternyata bang Dhika mengklaim dirinya sebagai bloger pertama yang tiba dikawasan monas untuk acra ini.
Atas kesepakatan bersama (9 orang), kita-kita memilih nongkrongin warung terdekat. yang menarik adalah diwarung ini terjadi sedikit insiden, dimana yang "empunya" warung mengeluarkan sedikit "sindiran halus" salah satu ciri khas kita sebagi orang timur, hehehe. maklum!! mereka menjual makanan tapi kami semua hanya meminum "teh" dalam kemasan botol. Alhasil kamipun memilih berpindah tempat.
Pada sesi ini pulalah ketika kami akan berpindah tempat, datang seorang bloger lagi yang udh cukup kondang (setidaknya bagi saya), yaitu iko yang datang dijemput salah seorang pemrakarsa perhelatan ini (agung). ternyata dugaan gw bener, si iko ini orangnya cool, calm n confidence, banyak senyum dan sedikit bicara (mungkin karena kedinginan kali ya).
Genap sudah 10 orang untuk transmigrasi dari warung dekat pintu selatan menuju stasiun gambir. tempat berlabuh selanjutnya adalah sebuah cafe yang saya gak inget "judulnya" apa.
sangat banyak obrolan yang terlontar disini, ada yang serius dan tentu adapula yang ketawa ketiwi. tambah lagi gaduhnya suara kereta api yang melintas tepat diatas kami.
Tanpa terasa warna hari sudah berubah, malam sudah bertambah pekat di tambah dinginnya suhu hari itu (tapi perbincangan tetap hangat). Akhirnya diskusi ringan ditutup dengan pertanyaan yang di ajukan ke 10 rekan-rekan bloger. pertanyaan yang mendasar "kenapa ngeblog dn sejak kapan?". tentunya beragam jawaban yang diterima. sudah lewat dari puku 20.30 Wib kamipun sepakat untuk membubarkan acara "halal bi halal" untuk dapat berkumpul lagi di waktu lain.
Bagi saya sendiri nilai lebih yang dpat dijadikan hikmah ialah "kebersamaan dan kehangatan yang terjalin", walaupun dalam guyuran hujan dan baju yang udah lepek semua, kita msih bisa menunjukkan rasa kebersamaan. hal ini semakin mempertegas bahwa kita kita adalah mahkluk sosial yang tidak akan lepas dri acara kumpul-kumpul, hahahaha.
Terima kasih untuk kebersamaanya : Nunik, Meity , Pipit, Iko, Agung, Agus, Agaz, Dhika dan Purwa, dan saya sendiri. semoga bisa menambah makna hidup.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Lupa
Jeda yang disengaja, berpura sibuk dunia menjadi abdi pelayan tantrum bayi bayi berbulu kaki test blog lagi yang sudha lupa password.
-
terperangkap aku disini dibatas dua cahaya sebelum senja memerah dan rinai yang mengiring langkah// di kala angin tak mampu menghantar bisik...
-
Apa lagi yang bisa kutuliskan tanpa panduan dan aku buta aksara Dibelantara maya yang tak kutahu tepiannya Sedangkan kita begitu nyata ter...
-
Sebab angin tak berhenti berlari, maka berburu sedari pagi. Berbekal mimpi yang kukemas malam tadi juga tak parang, yang kugenggam segumpal...