sajak hilang

puisiku hilang
di rimba belukar ilalang
tercabik duri-duri tajam
dalam timbunan sekam

puisiku hilang
dalam birunya samudera membentang
terombang ambing gelombang
membuih..... menghantam karang
lalu menghilang

puisiku terbang
melayang terbawa angin malam
membias dibawah cahaya bulan
lalu menghitam

puisiku sirna entah kemana
seiring hilangnya sapa-sapa manja
entah gurauan hati sekedar canda

puisiku.... kemana kau bawa segenggam rindu

berlalu

masih di persimpangan sebuah nanti
dengan belati pembelah mimpi
yang kau sisakan dari cerita kita
dan tak pernah berpusara

masih disini menunggu antara deru debu
melekat, hilang dan kembali tak pernah tentu

kadang merindu, kelabu, biru

mencari jalan setapak untuk kembali
jejak yang terhapus hujan sehari
antara berhenti di simpang mimpi
atau harus kembali pacu akselerasi

tapi....
belatimu semakin menikam dalam
jalan cerita tak pernah terpendam
katamu......... nikmati perjalanan hatimu
karena jika tak sembilu maka belati untukmu

pinta

ada yang lupa kupertanyakan
dari percakapan kita tadi malam
benarkah adanya simalakama
atau perihal khuldi
penyebab kami terdampar kebumi

lau kupinta padaMu
kapankan terbuka sekat antara ku dan mereka
yang terhalang tanah bertabur bunga

kurasa..
bukan sajak yang jahanam
jika tanya tak kuhentikan
kapan aku bisa berhenti tertawa
dan menari diatas keranda

cerita sebelum senja

Apa yang tersisa setelah hujan, selain bala dan genangan ?
Sepertinya hampir tidak ada bahkan rinainyapun tak lagi mampu membasuh luka.
Tak ada lagi manfaat yang tersembunyi dibalik hujan sore ini, tak ada lagi makna yang sanggup kucerna bahkan deras suaranya semakin memekakkan telinga.

Memang dahulu kita pernah merasakan hujan bagaikan tontonan, kita terhibur lalu bertepuk tangan. Memang dahulu kita rasakan hujan laksana butiran mutiara dan mencair membasuh tanah, ketika keramaian kita dipenuhi tawa.

Namun kini dibalik hujan hanya menambah sunyi, bermenung menatap kebelakang mengenang betapa indahnya saat-saat kebersamaan. Lebih miris lagi, bahkan disini tak ada sisa suara yang didendangkan sekelompok katak yang mirip perkusi.

Mungkin ada sedikit yan tersisa sambil menikmati sandiwara sebelum senja, atas peran-peran yang diberikan sang "Maha Sutradara". mengenai aku, kamu dan mereka.
* Aku dengan segala egois dan ketidaktahuanku.
* Kamu dengan segala keingintahuan dan bagaimana mewujudkan kemauan.
* Mereka yang menjerit lirih atas ketidakpastian atau bahkan mereka yang mampu mengelabui peran dan berakting dalam kepura-puraan.

Entah,,,,,!
Aku yang tak mampu membaca atau mungkin saja buta pustaka.
Hanya setetes manfaat yang sanggup kucerna dari "hujan sebelum senja".
Bukan dari air yang mengalir, bukan dari air yang berlimpah ruah tapi kesetiaan dan kesabaran. Ya...! kesabaran, ujarku.
Kesabaran dalam menunggu sampai kapan ia reda, sampai kapan ia menyudahi tetesan terakhirnya??.

Entah,,,,,!!
Aku tengah bicara tentang hujan yang sebenarnya atau hanya kiasaan belaka.
Entah! aku berujar mengenai kesabaran berasal dari kalbu atau hanya sebagai bumbu?.
Apakah aku bicarakan hujan dunia maya???
Atau hujan Jakarta yang tak lagi mempesona???!!!

Entah,,,,,!!!
Yang aku tahu, telah kurentang tali kesetiaan dan kesabaran dari dalam dadaku hingga sepanjang jajaran batu nisan yang bertuliskan nama kamu dan mereka.
Tentu dan kuyakin itu, kalau kamu dan mereka juga punya indikator yang berbeda dan rentangan yang lebih panjang lagi.

....Semoga....

Renungan terhenti, lantunan suara Adzan membuatku malu untuk melanjutkan lamunan, suaranya menghardik nurani untuk segera bersuci. Setelah itu mempersiapkan diri menyambut malam yang tak pernah pula ku tahu, apakah nanti hanya hitam kelam ataukah bisa bermandi cahaya purnama.


*****
Kerajaan kesetiaan selalu membuka gerbangnya untuk siapa saja yang ingin menjadi punggawa atau hanya rakyat biasa dan tidak akan pernah memberlakukan "persona non grata".

Lupa

Jeda yang disengaja, berpura sibuk dunia menjadi abdi pelayan tantrum bayi bayi berbulu kaki test blog lagi yang sudha lupa password.