kelelahan jiwa


Semilir angin membelai wajahku..lembut membuai.

Perlahan mataku terpejam...

Bulir embun menyejukkan hatiku...kelegaan hingga sukma.


Kehampaan mulai sirna dan yang tertinggal hanyalah secuil makna........

Malam mulai merambah..mendaki bukit keheningan.

Alunan musik jiwa mulai memilin kegelisahan..mengikat... menyatu dengan nafas cinta.


Ketakjuban meninggalkan semua duka...

Memenggal semua kesendirian...

Indah kunikmati, kenikmatan kujiwai..


Rs

cinta


Waktu terus bergulir..tak terasa satu demi satu usiaku bertambah..langkah demi langkah..kulewati..beragam luka telah merongrong jiwaku

Namun aku masih disini!

Denyut nadiku sudah tak secepat dulu.. desah nafasku sudah tak memburu…

Aku tidak tahu apakah ini sesuatu yang lebih baik..

Namun aku masih disini!!

Sinar mataku sudah tak sekelam dulu..rona wajahku kembali mewarnai bumi…

Aku tak pernah tahu untuk apa semua ini…

Namun aku yakin aku masih disini!

Beribu pulau kudiami..beratus jiwa kuselami…jutaan hati kudatangi..namun kelelahan masih belum menyapaku. Aku tak tahu sampai kapan pengembaraan jiwa ini terus berlangsung. Namun aku tahu pasti aku masih disini…belum kemana-mana.

Tapi…dalam keyakinanku..ada sesuatu yang berubah..sesuatu yang mengalir..dan tak dapat kuhindari..

Ia begitu kuat merasuk kejiwaku..tanpa kusadari

Ia menyelinap dihatiku saat aku terpaku

Ia bertahta diragaku saat aku tanpa kekuatan

Tapi aku masih disini…..

Kucoba menyadari kehadirannya,kadang aku mampu..kadang ia benar-benar sirna

Kucoba menyentuh keberadaannya, kadang lembut..kadang begitu melukai

Tapi aku yakin aku masih disini dalam kuasanya…

Kucoba menghindari….. tapi ia mengejarku…..menebarkan pesonanya.. membentangkan jubahnya menjanjikan kelembutan. Aku tak kuasa menolak

Tapi aku masih disini..terpaku

Aku tidak buta..tapi mengapa aku tak mampu melihat

Aku tidak tuli..tapi mengapa gemuruhpun tak mampu kudengar

Aku masih hidup..tapi mengapa badai tak dapat kurasa

Yach…aku masih disini..

Ketika aku sadar aku tak bisa melihat apa-apa. Aku tak bisa mendengar sedikitpun dan aku benar-benar bisa…ia mampu membuatku berkicau, bersinar dan menyihirku selincah merpati. Tapi aku masih disini.

Aku begitu kedinginan, aku begitu hampa.. karena aku berusaha menghindarinya

Aku begitu terluka, aku begitu hina..ketika aku berusaha menolaknya

Dan aku masih tetap disini menikmati kehadirannya..

Aku sudah tak mampu menghindarinya, aku sudah tak kuasa menghentikan kehangatannya..biarlah semua mengalir bagai darah yang ada dalam tubuhku..

Karena ia akan terus membuat irama dalam jiwaku.

Aku mampu menikmati luka karena kehadirannya, aku mampu tertawa dalam duka karena bersamanya…biarlah ia terus bersamaku…karena sampai usai cerita kehidupan ini, ia tak akan mampu kuhindari..ia masih tetap sama.. ia akan terus hidup abadi…karena itulah ia dinamakan cinta




Rs

nyanyian malam

Temaram senja mulai memekat…

Nyanyian malam mulai terdengar….

Bersenandung lirih..menyayat hati…


Kini ia sendiri…tanpa teman..tanpa kekasih

Kini ia berduka..kehilangan semua rasa


Dulu ia bernyayi bersama bulan

Dulu ia menari bersama bintang

Namun itu dulu sekali…

Kala anak manusia belum mengenal dosa

Kala anak manusia masih rindu belaiannya


Dulu air matanya adalah mutiara

Dulu desahannya adalah wangi surga

Namun kini

Air matanya tak memberi arti apa-apa

Desahannya tak membawa makna

Dulu kedatangannya begitu dinanti

Saat para petani melepaskan semua kepenatan

Namun kini kehadirannya sudah tak ada beda dengan ketiadaannya

Saat petani semua sudah berdasi

Dulu kehadirannya menandakan bergantinya hari

Dulu kedatangannya adalah awal peristirahatan

Namun kini kehadiarannya tiada beda dengan ketiadaannya.

Saat dirinya tiada beda dengan siang.


Senandungnya kini begitu memilukan… mendambakan kasih anak manusia

Belaiannya bagaikan sembilu.. perih…

Namun ia tak berdaya… karena ia hanyalah sebuah waktu

Waktu yang mampu mencipta kesadaran akan hari akhir…

Waktu yang menandakan dosa-dosa

Karena ia hanyalah sebuah malam.


Rs

“TANGISAN JIWA”

puisi ini adalah kiriman dari seseorang teman dengan inisial "Rs". yang katanya pernah nangis selama 3 bulan sebelum tercipatanya puisi ini (dengan sedikit canda tentunya). Tanpa perjanjian formal Rs memperbolehkan puisi-puisinya di publish di blog "serpihan kata", yang menurut saya juga bernada "pelangi hitam putih"

kenapa "Rs" ?, padahal saya lebih suka dengan nama belakangnya "latifah" yang menurut saya melayu sekali dan anggun terdengar. berikut ini sedikit kilah pernyataan dari beliau


Rs: itu signature ku
Rs: untuk sesuatu hal yang informal aku signature dengan rs
Rs: dibaca ares
Rs: rs=ares
Rs: ares = dewa perang


“TANGISAN JIWA”


Ribuan kata tak akan mampu menuturkan duka yang kualami
Jutaan rasa tak akan mampu melukiskan lara hati yang kurasa
Ratusan purnama tak akan mampu menggantikan hari-hariku yang telah lalu.
Dimana bahagia pernah menghampiriku ketika ia bersamaku….bersama menentang badai, bersama menatap matahari..bersama mengintip malam.
Luka mampu kubalut, kesedihan kujadikan rona dalam hidup, derita dan tangis kuubah menjadi irama jiwaku….saat bersamanya!!!!!


Tapi sekarang ia pergi…bersama angin mengembara…terbang jauh.
Dan aku tak pernah tahu apakah ada niatnya untuk kembali bersamaku mengarungi lautan duka dan sungai airmata.
Ia adalah matahari hidupku….hidupku gelap tanpanya
Ia adalah purnama hidupku…hidupku kelam tanpanya
Ia adalah lagu jiwaku…jiwaku hampa tanpanya


Gemericik air sudah tak mampu kudengar
Sejuknya angin sudah tak mampu kurasa
Hangatnya mentari sudah tak mampu kunikmati
Aku buta dalam penglihatanku
Aku kaku dalam duniaku
Aku mati dalam jiwaku
Ia telah pergi…mewujudkan keinginannya…mencapai impiannya..menembus malam…menantang matahari…menguji kekuatannya..meninggalkanku seorang diri…
Ia telah pergi..membawa semua cintaku…semua asaku
Tak pernah kuduga ia tega meninggalkanku dalam dunia ciptaanya
Ia ajak aku kedunia yang baru…yang membuatku bagaikan seorang dewi kebahagiaan yang dipenuhi aroma cinta.


Dewi malam pernah tertunduk malu manatap sinar wajahku
Matahari pernah takluk dikakiku manatap pesona jiwaku
Burung-burung membisu menyaksikan keceriaanku mengalahkan ribuan syair cinta yang dialunkan seoarang bidadari
Rusna latifah: Tapi itu hilang dalam semalam…ketika kurasakan ia kan meninggalkanku…tanpa kata-kata…
Dan ia benar-benar telah meninggalkankau karena cintanya…
Ia enggan membawaku..ia campakkan aku kembali keduia nyata yang dipenuhi duka..derita dan air mata.


Kebahagiaanku kurasa bagaikan sembilu
Keceriaanku bagaikan gerhana
Tak ada yang dapat kunikmati tanpanya…aku adalah orang pertama yang berenang dalam genangan airmataku..dan aku tahu ini tak ada akhir..
Bahkan aku ragu apakah Tuhanku mampu mengakhiri lukaku..deritaku…tanpa kematian jiwaku…


"Rs"

Lupa

Jeda yang disengaja, berpura sibuk dunia menjadi abdi pelayan tantrum bayi bayi berbulu kaki test blog lagi yang sudha lupa password.